Sponsored by

Djarum Foundation_Bakti Budaya Logo Bank Jateng  web indonesia kaya

Pasar hari ini adalah pasar yang sangat cair dan tidak mudah diidentifikasi bentuk dan batas-batas wilayah operasinya. Mobilitas dan lintas informasi yang sangat cepat dan tidak terbendung menjadi dorongan utama perubahan tersebut. Komoditas penting sampai makanan ringan yang ada di belahan dunia lain tiba-tiba mudah didatangkan lewat tombol-tombol di genggaman. Kualitas barang tak perlu teridentifikasi wujudnya lalu begitu saja digantikan ‘Brand’.  Lalu, apakah perubahan itu menghilangkan makna ‘pasar’ yang selama ini urun-temurun kita yakini ? Realitanya, disekitar kita masih bisa kita temui pedagang keliling dan pasar tiban. Pasar tradisional, supermarket, mini market, warung kelontong, asongan, curated market, pop-up market, saling tumpang tindih, bertaut berhimpitan menjadi sistem sub-sistem pasar hari ini. Perubahan demi perubahan menjanjikan peluang buat mereka yang terus bersiap diri menghadapi bentuk dan makna baru, tetapi menyisakan ancaman bagi mereka yang menyerah tertinggal dan kembali menutup pintu-pintu keterlibatan.

Pasar produk seni tak luput dari perubaan tersebut. Masihkan kita memperdebatkan ‘seni untuk seni’  sekarang, sementara gedung pertunjukan tidak lagi sakral dan tiba-tiba pindah di trotoar, lukisan-lukisan sang maestro tiba-tiba dipindah oleh clothing industry menjadi celana pendek, lagu-lagu daerah berubah menjadi tagline produk, puisi-puisi cinta menjadi janji-janji politik ? atau, Masihkan kita sibuk menggali ‘nilai-nilai adiluhung’ warisan nenek moyang yang tersembunyi dibalik karya-karya besar tanpa bergerak mengaplikasikannya menghadapi tantangan kekinian ?

PAZAARSENI adalah paduan dari kata ’PASAR’ dan ‘BAZAAR’. Kata ‘bazaar’ disisipkan sebagai penyimpang makna pada frase Pasar Seni, karena kata tersebut sudah dikenal di kalangan masyarakat sebagai kata ganti ‘pasar murah’, sehingga diharapkan PAZAARSENI tidak dimaknai sebagai peristiwa ‘sakral’  yang jauh dari keseharian masyarakat. Dewan Kesenian Semarang (DEKASE) sebelumnya telah menyelenggarakan dua kali Pazaarseni yang juga sudah diagendakan menjadi event tahunan Kota Semarang. Pazaarseni  2014 (24-30 Agustus 2014) diselenggarakan perdana dengan keterlibatan 32 peserta dari Pulau Jawa, dengan komposisi konsentrasi seni yang cukup beragam : seni lukis, street art, musik, teater, film, dan beberapa komunitas yang mewakili industri kreatif. Pazaarseni 2015 (8-16 Agustus 2015) terjadi lonjakan keterlibatan peserta  sebanyak 70 peserta yang berasal dari Jawa Bali, terutama pada peserta dengan konsentrasi seni lukis. Sambutan positif dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat dari dua kali penyelenggaraan Pazaarseni tersebut menjadi modal yang sangat penting bagi digelarnya Pazaarseni berikutnya.

Hadir kembali untuk ke-tiga kalinya Pazaarseni 2016 tentu saja dituntut semakin mampu mengakomodasi perubahan yang terjadi pada dunia seni, tak terkecuali pemahaman konteks seni yang berkembang di masyarakat saat ini.  Berniat untuk mengundang keterlibatan peserta dan audience dalam  komposisi konsentrasi seni yang lebih berimbang, Pazaarseni 2016 mencoba untuk hadir tidak hanya sebagai tontonan kosong, lebih dari itu mampu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat seluas-luasnya untuk menyiapkan diri menghadapi perubahan jaman.

Tujuan
·   Pazaarseni 2016 tidak hanya berupaya mengembangkan pasar produk seni dalam arti sempit, atau yang selama ini diukur keberhasilannya hanya dengan banyaknya jumlah transaksi penjualan produk seni, lebih dari itu Pazaarseni 2016 berupaya mendorong tumbuhnya pemahaman seni dan tersampaikannya nilai-nilai seni yang ditawarkan seniman lewat karya dan laku seni nya.
·   Masyarakat adalah sumber inspirasi bagi seniman dalam menciptakan karya, sebaliknya dalam konteks tertentu karya seni adalah sarana seniman untuk menyikapi kondisi sosial masyarakat. Oleh karena itu Pazaarseni 2016 dikembangkan untuk mampu menjadi  ‘ruang bersama’  tempat bertemunya seni dengan masyarakat yang menghidupinya.
·   Seni selalu berkembang mengikuti jamannya, meskipun perkembangan tersebut tidak bisa dibilang saling meniadakan, seni dulu dan seni kini bertaut mengisi ruang pemahaman dalam masyarakat. Pazaarseni 2016 diharapkan mampu menjadi etalase, demi tumbuhnya  apresiasi dan edukasi seni untuk masyarakat luas.

Supported by:

pendukung

Media Partner:

partner